Indonesia, Berprestasi Di Level Muda Namun Tidak Di Senior, Kenapa?

26 Sep 2013

Belum lama ini anak-anak Indonesia menembus perempatfinal “Piala Dunia”-nya Usia 10-12 di London, di final dunia Danone Nations Cup (DNC). Minggu lalu giliran remaja-remaja U-19 berhasil menjuarai Piala AFF. lalu kenapa di level senior kita terlalu susah berprestasi?

Pertanyaan di atas adalah keliru satu pertanyaan yang paling Kerap diajukan teman-teman kepada aku melalui account twitter aku (@coachtimo). Dan melalui tulisan ini saya mencoba menjawabnya berasal dari kesimpulan dan kacamata saya. (Kali ini tersedia dua hal yang akan aku bahas).

Indonesia Kerap berjaya di kejuaraan Umur muda, tetapi tidak berprestasi di tingkat senior. Mengapa?

Ini sebuah pertanyaan yang terlampau menarik dan seringkali diperdebatkan. ada beberapa keterangan yang kudu diketahui sehingga tidak benar menyadari bisa terhindarkan, dan pertanyaan di atas bisa terjawab secara utuh (tidak sepotong-sepotong layaknya yang selama ini Kerap saya alami).

Timnas negara-negara yang maju sepakbolanya di mulai bersama dengan timnas junior berumur 15 tahun. Artinya, kejuaraan internasional dibawah usia 15 th. lebih mengarah terhadap turnamen antarklub dan pertandingan antarpelajar. perihal ini tentu tidak sanggup jadi tolak ukur kehebatan pemain Usia muda kita dibandingkan negara lain. Tak hanya itu, harus diketahui bahwa tidak seluruh turnamen internasional mempunyai kelas yang sama. Umumnya turnamen berbentuk invitasi atau open tournament yang sanggup diikuti siapapun dan belum pasti berkualitas.

Turnamen internasional untuk pemain Umur dini (6-12 thn) dan Usia muda (13-20 thn) terlampau marak di beragam belahan dunia dan di tawarkan oleh beragam EO dan agency yang bergerak di sport travel. Turnamen-turnamen itu sendiri bisa kamu cari infonya di internet dan kebanyakan dibagi didalam tiga kategori: (1) turnamen kelas kompetitif, (2) menengah dan (3) turnamen yang bersifat rekreasi. Kala ada tim dari Indonesia yang sukses di turnamen-turnamen tersebut, pemberitaan di Indonesia begitu bombastis tanpa menilik klasifikasi turnamen yang diikuti.

Sebagai contoh, turnamen kelas atas dunia saat ini adalah Danone Nations Cup (U12) dan MUPC (U15). Peserta global final untuk ke dua turnamen ini wajib menempuh jalan yang panjang di negara-negaranya masing-masing. Namun Gothia Cup (Swedia) dan Singa Cup (Singapura) yang mempertandingkan beberapa kelompok umur juga misal turnamen kelas menengah.

Selain pemberitaan yang bombastis, kasus pencurian usia yang sering berjalan juga dapat mengaburkan nilai pencapaian. keliru satu penjaga gawang kondang pernah mengaku kepada aku bahwa dia mencuri umur 5 th. pada sebuah kejuaraan pelajar Asia.

Umumnya pencurian umur dilakukan secara tidak tebal (1-2 th. lebih tua), tetapi seringkali juga berlangsung pencurian usia secara fantastis (3 th. ke atas), bersama dengan mengfungsikan pemain yang secara usia telah tua tetapi masih nampak muda dan berpostur tubuh pendek. Formalitas tidak baik ini terus terjadi gara-gara pengurus, pelatih, pemain dan orangtua terlibat di dalamnya demi keperluan masing-masing. Petugas kelurahan terhitung bersama dengan ringan “dibeli” atau dikelabui sehingga surat kelahiran dan sebagainya disulap menjadi sesuai bersama dengan keputusan turnamen yang diikuti. Rutinitas tidak baik ini bukan saja membohongi Indonesia masyarakat berpikir kami berhasil walaupun sebenarnya curang, tapi juga mendidik pemain untuk menjadi koruptor di jaman depan.

Turnamen internasional untuk kelompok umur kebanyakan bersifat festival, berarti pertandingan tidak berlangsung lama. MUPC dilangsungkan sepanjang 2X15 menit. DNC U-12 dilangsungkan 1×15 menit. hal ini pasti berpengaruh pada hasil akhir. Keberuntungan menjadi faktor mutlak di Sementara pertandingan berjalan secara singkat. Kesimpulan: kesuksesan maupun ketidaksuksesan dalam ikuti turnamen-turnamen tersebut tidak dapat secara tentu jadi tolak ukur kebolehan kita dibandingakan negara-negara lainnya.

Satu lagi; Umur dini dan Usia muda adalah masa pembentukan. Artinya, hasilnya baru bakal nampak di sesudah itu hari Kala mereka bertumbuh jadi pemain senior. Ketidaksuksesan timnas senior kami dan banyaknya pemain berlabel profesional dan timnas yang bergaya hidup amatiran (tidak menjaga konsumsi makanan yang sesuai, tidak disiplin, dan lain-lain) menunjukan secara paham bahwa pembinaan pemain Usia dini dan Umur muda gagal total.

Pembinaan adalah fondasi timnas senior dan di Indonesia pembinaan tidak berlangsung dengan baik dan sistematis. Alhasil kegilaan masyarakat Indonesia kepada sepakbola dan jumlah masyarakat Indonesia yang begitu banyaknya tidak menghasilkan apa-apa.

Potensi pemain Indonesia yang sebenarnya dan sejujurnya luar biasa pada selanjutnya tidak dapat diraih. perihal ini sebab pemain bukan hanya dilahirkan (memiliki bakat alam sebagaimana begitu banyak pemain di Indonesia), tapi juga diciptakan melalui latihan yang berkualitas, pendidikan di dalam hal kepribadian dan pengetahuan pengetahuan (dalam hal ini sport science) serta kompetisi dan turnamen yang dikerjakan dengan konsiten, jujur, sportif, dan tidak mengada-ada (sehingga tidak menipu diri dan bangsa Indonesia).

Saya menghendaki menjadi pelatih. Bagaimana caranya? Langkah-langkah apa yang kudu aku lakukan?

Potensi pemain hanya bisa diraih misalnya pembinaan berjalan secara berkualitas. hal ini dimulai dengan pendidikan pelatih. Masalahnya, di Indonesia banyak sekali pelatih mulai telah pintar sehingga tidak terasa kudu melacak lisensi dan menambah pengetahuan dan skill melatih.

Umumnya, seseorang menjadi pelatih gara-gara dulunya pernah jadi pemain bola. Yang diandalkannya adalah cara-cara melatih yang dulu dialaminya pernah tanpa mengerti bahwa zaman udah berubah. Sport science udah berkembang. pengetahuan taktis dan pengertian bakal metode perihal bagaimana langkah melatih taktik secara efisien termasuk sudah berkembang pesat. Alhasil latihan yang diterima pemain kami pada umumnya tidak memadai memiliki kualitas untuk dapat beradu bersama dengan Biasanya negara-negara lainnya.

Sebagian pelatih lainnya, seperti anda, sungguh-sungguh inginkan menjadi pelatih yang berkualitas. Yang menyedihkan, Indonesia tidak punyai akademi kepelatihan untuk pelatih dan wasit, sehingga tidak bisa mengakomodir permohonan kamu yang mulia tersebut. Pengprov dan pengcab terjadi sendiri-sendiri sehingga tidak dimiliki data yang tentu perihal jumlah pelatih berlisensi D hingga A di Indonesia! Ketertinggalan kami sesungguhnya begitu jauhnya. Entah hingga kapan saya perlu terus mengkotbahkan kepada pengurus PSSI untuk bekerja secara luar biasa keras, sistimates dan smart tahu apa yang harus dilakukan tanpa berpikir financial gain, demi mengejar ketertinggalan kita yang sedemikian parahnya.

Dengan background keterangan di atas, saran aku kamu melacak keterangan mengenai kapan dan dimana dapat diadakan lisensi kepelatihan D dan seterusnya. Caranya, dekati orang-orang yang bekerja di pengcab-pengcab disekitar kamu tinggal, sehingga pada waktunya nanti anda beroleh info mengenai kapan akan diadakannya kepelatihan.

Selain itu carilah SSB yang cukup memiliki kwalitas di daerah kamu dan tawarkan diri anda untuk bekerja secara puas rela. hal ini perlu untuk mendapatkan pengetahuan basic dan pengalaman. langkah menilai SSB mana yang berkwalitas ringan saja; bandingkan standard yang tercantum di “Kurikulum Sepak Bola Indonesia” dengan kenyataan yang ada di lapangan. berasal dari sana kamu mampu menilai SSB mana yang betul-betul ingin maju dan layak untuk anda jadikan area menimba ilmu.

Selain itu rajinlah membaca buku-bulu kepelatihan, psikologi, filsafat, kepemimpinan dan buku-buku berkenaan kesegaran olahraga.

Saran aku yang terakhir: meningkatkan kapabilitas mempimpin anda bersama cara turut terlibat di lingkungan RT/RW atau organisasi-organsisasi bermutu di daerah anda.

Sebagai catatan akhir di postingan ini, saya mendambakan katakan bahwa sebetulnya obyek utama aku mempunyai account twitter adalah fungsi menambahkan manfaat ilmu (terutama mengenai sepakbola) bagi pembaca. dikarenakan keterbatasan saat dan area saya kemudian menulis sebuah buku dengan format bertanya jawab berjudul”@coachtimo Menjawab” yang dapat segera beredar th. ini juga. Selain itu, menjadi sekarang, saya terhitung akan mengkaji secara berkala beberapa pertanyaan yang Kerap diajukan kepada saya lewat ini. Semoga bermanfaat.


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive